Terakata – Aksi penyerangan terhadap Sekretariat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pers Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kendari berujung bentrok fisik, hal tersebut terjadi di kawasan Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Selasa (23/12/2025).
Diketahui, peristiwa tersebut bukan sekadar keributan biasa, melainkan rangkaian intimidasi terbuka yang mengarah langsung kepada pers mahasiswa.
Sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan diri dari Partai Serikat Mahasiswa (Pasmi) diduga terlibat dalam aksi tersebut dengan perilaku agresif yang dinilai melampaui batas etika kemahasiswaan.
Insiden bermula sekitar pukul 11.30 WITA ketika rombongan mahasiswa mendatangi Kantor Komisi Pemilihan Umum Mahasiswa (KPUM) untuk mempersoalkan keterlambatan pelaksanaan Pemilihan Lembaga Mahasiswa (Pemilma).
Mereka menuding KPUM lalai lantaran Pemilma yang dijadwalkan berlangsung pukul 10.00 WITA belum juga dimulai.
Ketidakhadiran Ketua KPUM di lokasi semakin menyulut emosi massa. Penjelasan yang dinilai tidak memadai membuat situasi berubah dari penyampaian aspirasi menjadi tekanan verbal yang tidak terkendali.
Nada suara meninggi, bentakan dilontarkan, dan Sekretaris Jenderal KPUM menjadi sasaran luapan kemarahan.
Keributan yang semula terpusat di depan Kantor KPUM kemudian meluas ke area PKM, menciptakan suasana mencekam dan mengganggu aktivitas organisasi mahasiswa lain.
Dalam situasi tersebut, Sekretariat UKM Pers IAIN Kendari, yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan teknis Pemilma, justru menjadi sasaran luapan emosi.
Saat ditemui salah satu anggota UKM Pers, Harpan Pajar, mengatakan dirinya keluar dari sekretariat untuk menegur dan meminta rombongan tersebut menghentikan keributan serta menyampaikan aspirasi secara beradab kepada KPUM.
“Saya dengar ribut di luar. Saya keluar, saya suruh mereka pergi, jangan datang ribut di PKM,” ujarnya saat ditemui Terakata.co, Selasa (23/12/2025).
Namun, teguran tersebut justru disambut dengan sikap semakin arogan. Situasi dilaporkan semakin memanas hingga berada di ambang kekerasan fisik.
Salah seorang mahasiswa bernama Reno, yang disebut sebagai bagian dari kelompok Pasmi, diduga mengambil sepotong kayu dan bergerak ke arah Harpan.
“Pas saya habis teriaki begitu, saya balik sudah ada yang pegang kayu mau majui pukul saya,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, aksi intimidasi berlanjut. Seorang mahasiswa bernama Egar, yang mengenakan jaket berwarna merah maron, naik ke tangga Sekretariat UKM Pers, menarik baju Harpan secara kasar, lalu berteriak menantang, “Saya Egar! Cari saya di luar!” Aksi tersebut disertai tendangan ke meja di depan sekretariat serta lontaran ucapan bernada kasar.
Dalam kondisi tertekan, ia mengaku sempat melempar gelas kopi ke arah rombongan tersebut.
Ia menegaskan tindakan itu merupakan reaksi spontan atas ancaman dan upaya penyerangan yang lebih dulu terjadi.
“Saya lemparkan gelas kopi karena mereka duluan yang punya itikad mau menghambur di sekret pers,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa tindakannya bukan bentuk provokasi awal, melainkan refleks mempertahankan diri. Harpan juga membantah narasi yang berkembang pascakejadian yang menyebut UKM Pers sebagai pihak penyerang.
Menurutnya, kata dia UKM Pers justru berada dalam posisi diserang dan diintimidasi. Ia menegaskan bahwa tidak ada agenda penyerangan terhadap sekretariat lembaga lain.
Kehadiran mereka pascainsiden semata-mata untuk meminta klarifikasi atas tindakan agresif yang lebih dahulu terjadi.
Insiden ini menjadi catatan kelam bagi kehidupan demokrasi kampus. Ancaman menggunakan kayu, penarikan baju secara paksa, tindakan provokatif, serta teror verbal terhadap sekretariat pers mahasiswa dinilai sebagai bentuk kekerasan fisik dan psikologis yang nyata.
Peristiwa tersebut tidak hanya mencederai etika kemahasiswaan, tetapi juga melukai prinsip kebebasan pers di lingkungan kampus.
Hingga berita ini ditayangkan, pihak media masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak terkait.
Penulis: Faiz
Editor: Aman









