Oleh: Muh. Arwan Siala
Saya tidak berada di lapangan ketika pertandingan itu berlangsung. Saya tidak melihat langsung bagaimana awal mula persoalan terjadi. Saya juga tidak berada di antara para pemain, pendukung, maupun masyarakat yang menyaksikan pertandingan.
Namun sebagai seorang pemuda, saya melihat potongan-potongan kejadian itu melalui media sosial.
Video yang beredar membuat saya berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
Benarkah ini yang sedang terjadi di tengah perayaan kemerdekaan kita?
Lapangan sepak bola seharusnya menjadi tempat berolahraga, tempat para pemuda menunjukkan bakat, tempat masyarakat berkumpul, sekaligus ruang untuk membangun persaudaraan.
Tetapi dari apa yang terlihat dalam sejumlah video di media sosial, pertandingan antara tim Desa Sawapudo dan Desa Saponda justru berubah menjadi keributan.
Lapangan sepak bola seolah berubah menjadi ring tinju.
Pemuda berhadapan dengan pemuda. Emosi yang seharusnya dapat dikendalikan justru meledak. Pertandingan yang semestinya menjunjung tinggi sportivitas berubah menjadi sesuatu yang jauh dari nilai-nilai olahraga.
Sebagai seorang pemuda, tentu saya merasa prihatin.
Bukan karena saya ingin menyalahkan Sawapudo.
Bukan pula karena saya ingin menyalahkan Saponda.
Saya juga tidak mengetahui secara pasti siapa yang memulai dan siapa yang benar.
Saya tidak berada di lokasi, sehingga saya tidak ingin menjadi hakim atas sebuah peristiwa yang tidak saya saksikan secara langsung.
Tetapi ada satu hal yang menurut saya patut kita renungkan bersama:
Perkelahian bukanlah kemenangan.
Siapa pun yang memulai, siapa pun yang terpancing, dan apa pun penyebab awalnya, ketika sebuah pertandingan berakhir dengan kekerasan, sesungguhnya semua pihak telah kehilangan sesuatu.
Kita kehilangan sportivitas.
Kita kehilangan rasa persaudaraan.
Dan yang paling menyedihkan, kita kehilangan kesempatan menjadikan sepak bola sebagai sarana mempererat hubungan antarpemuda.
Apalagi peristiwa itu terjadi dalam suasana perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Saat Merah Putih berkibar.
Saat kita mengenang jasa para pahlawan.
Saat kita berbicara tentang persatuan, perjuangan, dan pengorbanan.
Namun di tengah suasana itu, kita justru melihat sesama anak muda saling berhadapan hanya karena sebuah pertandingan sepak bola.
Di sinilah saya ingin mengajak kita bertanya:
Apa sebenarnya arti kemerdekaan bagi kita sebagai pemuda?
Apakah kemerdekaan hanya tentang memasang bendera?
Apakah hanya tentang mengikuti upacara?
Apakah hanya tentang lomba dan perayaan?
Ataukah kemerdekaan juga berarti kita harus mampu mengendalikan diri, menghargai perbedaan, menerima kekalahan, dan menjaga persaudaraan?
Para pahlawan dahulu tidak berjuang agar kita saling bermusuhan.
Mereka berjuang agar kita menjadi satu bangsa.
Mereka berjuang agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menghancurkan.
Mereka mempertaruhkan nyawa untuk sebuah Indonesia yang merdeka.
Lalu hari ini, mengapa kita begitu mudah mempertaruhkan persaudaraan hanya karena sepak bola?
Bukankah pertandingan hanya berlangsung sementara?
Peluit akan berbunyi.
Bola akan berhenti bergulir.
Pemain akan meninggalkan lapangan.
Piala akan dibawa pulang.
Tetapi jangan sampai dendam ikut dibawa pulang.
Jangan sampai pertandingan yang hanya berlangsung beberapa puluh menit menjadi awal permusuhan selama bertahun-tahun.
Jangan sampai anak-anak muda yang hari ini bertengkar menjadi orang-orang yang besok saling menyimpan kebencian.
Dan jangan sampai generasi berikutnya mewarisi konflik yang sebenarnya tidak pernah mereka mulai.
Jangan Jadikan Media Sosial sebagai Bahan Bakar
Ada hal lain yang juga penting.
Kita harus berhati-hati terhadap potongan video yang beredar di media sosial.
Satu video mungkin hanya memperlihatkan beberapa detik dari sebuah kejadian. Kita tidak tahu apa yang terjadi sebelum kamera dinyalakan. Kita juga belum tentu mengetahui keseluruhan cerita.
Karena itu, jangan menjadi hakim hanya berdasarkan potongan video.
Jangan memperkeruh keadaan dengan komentar yang memprovokasi.
Jangan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
Dan jangan menjadikan media sosial sebagai tempat memperpanjang pertikaian.
Media sosial seharusnya menjadi ruang untuk menyampaikan informasi, bukan tempat menyalakan kembali api konflik.
Jika ada persoalan, biarkan pihak-pihak yang berkepentingan menyelesaikannya dengan kepala dingin. Jika memang ada pelanggaran, biarkan diselesaikan melalui mekanisme yang berlaku, bukan melalui aksi saling balas.
Kita yang melihat dari luar seharusnya menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah.
Editor: Redaksi









